Kamis, 12 Januari 2012

Delapan Aspek Perkembangan Manusia


Nama    : Isna Suryani
NIM       : 092331161
Tugas    : Psikologi Anak& Remaja               
 

A. Hubungan Dan Keterkaitan Antara Kedelapan Aspek Perkembangan Manusia
             Dalam pembahasan perkembangan manusia banyak aspek-aspek yang mempengaruhi dan menunjang  perkembangannya. Ada 8 aspek perkembanagan manusia di antaranya; perkembangan fisik (kinestetik), perkembangan intelegensi, perkembangan  emosi, perkembangan bahasa, perkembangan sosial, perkembangan kepribadian, perkembangan moral, dan perkembangan beragama.[1] Kedelapan aspek perkembangan tersebut memiliki keterkaitan dan hubungan yang saling mempengaruhi apabila salah satu atau beberapa aspek-aspek itu tidak dimiliki manusia maka hasilnya kurang maksimal.
            Kenapa bisa terjadi???? Kita akan uraikan bagaimana hubungan antara kedelapan aspek itu. Pada perkembangan bahasa, aspek kesehatan menjadi faktor yaqng sangat  mempengaruhi bahasa anak, terutama usia awal kehidupannya. Apabila tidak dijaga dengan makan makanan bergizi dan berolahraga maka akan cepat sakit. Hal ini menunjukan bahwa berolahraga atau gerakan fisik lainnya mempengaruhi perkembangan bahasa. Selain itu, faktor intelegensi juga menjadi penunjang jika anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau di atas normal. Hurlock mengemukakan hasil studi mengenai anak yang  mengalami kelambatan mental, yaitu bahwa sepertiga di antara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak yang berada pada tingkat intelektual paling rendah , mereka sangat miskin berbahasanya.[2]
            Pada perkembangan kepribadian, faktor-faktor yang mempengaruhi di antaranya faktor fisik,  intelegensi, moral, emosi dan sosial. Pada faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur tubuh, kecantikan, kesehatan, keutuhan tubuh, dan keberfungsian organ tubuh. Begitu juga intelegensi individu yang tinggi atau normal biasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. [3]Dalam membentuk kepribadian yang berkarakter bagi diri sendiri maupun orang lain, di mana kepribadian dapat dibentuk melalui faktor moral yang dimilikinya, seperti:  keteladanan, identifikasi/imitasi, dan proses coba-coba.[4] Pada aspek emosi , individu yang dapat mengontrol diri akan merasa nyaman dengan emosinya dalam menghadapi berbagai situasi frustasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif, tidak destruktif (merusak).[5]Faktor lingkungan sosial budaya juga memberi peran bersahabat dengan orang lain.[6]
            Begitu pula dalam masalah beragama, pastinya juga memiliki banyak faktor-faktor yang bisa mempengaruhi perkembangan agama, mulai dari faktor internal maupun eksternal.[7] Faktor internal meliputi kepribadian, moral, fisik, emosi, intelegensi, dan  bahasa,sedangkan faktor eksternal meliputi sosial, intelegensi, dan bahasa. Semua komponen tersebut menjadi satu kesatuan yang sempurna jika elemen-elemen itu berperan dengan maksimal. Sebagai contohnya jika kita sudah beragama kuat dan mantap, tapi moral kita masih menyalahi norma-norma yang telah di akui masyarakat  sebagai hal benar, maka secara sosial kita belum diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu sebaliknya apabila kita memiliki moral yang baik pada diri sendiri maupun masyarakat, tetapi layaknya manusia beragama kita belum bisa bersikap seperti apa yang telah diajarka oleh agama kita masing-masing.
            Selain itu, masih ada juga kaitan perkembangan emosi dengan faktor-faktor lain. Antara lain faktor intelektual/ intelegensi, faktor  sosial, faktor moral, faktor  keberagamaan dan lain sebagainya. Perasaan intelegensi mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran  yang diwujudkan dalam bentuk rasa yakin dan tidak yakin, rasa puas, dan rasa gembira.  Perasaan sosial menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan atau kelompok. Wujud rasa ini seperti; rasa solidaritas, persaudaraan, simpati, kasih sayang dan sebagainya. Perasaan moral berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk. Contohnya, rasa tanggungjawab, rasa bersalah apabila melanggar norma, rasa tentram dalam menaati norma. Sedangkan perasaan keagamaan menyangkut hubungan manusia dengan tuhan dimana posisi manusia benar-benar mengetahui tuhannya baik dengan cara beribadah dan menjalankan ajaran-ajaranNya.[8]
            Begitu juga tak kalah pentingnya aspek sosial dalam perkembangan manusia khususnya pada kehidupan sehari-harinya. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orangtua, sanak keluarga, orang dewasa, atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosialnya memfasilitasi atau memberi peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan mendapat perkembangan sosial secara matang. Namun, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan kasar orangtua yang sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberi bimbingan, teladan, pengajaran, atau pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma, baik agama maupun tatakrama atau budi pekerti.[9] Secara tidak langsung factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial sangat banyak terutama lingkungan keluarga dan masyarakat. Maka faktor pembangun moral, emosi, agama dan lainnya memberi kontribusi besar yang akan berdampak langsung tergantung pengaruh positif atau negatif yang didapatkan anak tersebut.
B. Salah Satu Aspek Yang Paling Dominan.
            Dari beberapa uraian yang telah dijelaskan diatas bahwa, semua aspek perkembangan manusia antara yang satu dengan yang lain memiliki hubungan dan keterkaitan yang signifikan. Kedelapan aspek tersebut apabila hilang salah satunya maka perkembangan anak menjadi kurang sempurna. Terapi tidak bida dipungkiri juga bahwa ada salah satu aspek yang paling dominan atau menonjol dalam mempengaruhi perkembangannya, walaupun kedelapan aspek tersebut berpengaruh juga.
            Menurut kami pribadi, aspek yang paling dominan yaitu terletak pada aspek Kepribadian seseorang. Kenapa bias demikian????  Secara keseluruhan sudah dijelaskan oleh penulis bahwa dalam kepribadian diri seseorang sudah memuat semua aspek-aspek lain, dimana control dan penjagaan sebagian besar dipegang oleh diri sendiri. Sedangkan aspek-aspek di luar diri bisa dikendalikan jika aspek kepribadian sudah benar-benar utuh sehingga  mudah jika akan menerima aspek lainnya. Misalnya, seseorang yang kepribadiannya matang dan berkarakter jika diajarkan dengan nilai-nilai atau norma-norma, maka akan mudah terbentuk moral dan sifat keberagamaan yang kokoh, dan sebagainya. Maka kesimpulannya yang bisa kita tangkap dari uraian di atas bahwa semua aspek perkembangan akan berfungsi dan mempengaruhi diri kita. Oleh karena itu idelnya kita bisa menumbuhkan dan menciptakan kedelapan aspek-aspek tersebut untuk diaktualisasika dalam kehidupan sehari-dari. Aaamiiiiiiiiin. Wallohu a’lam bishowab.
-Referensi : Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja",Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009.

           
              


[1] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja",Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009, hlm.101-136
[2] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja",hlm. 121
[3] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja",hlm. 128
[4] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 134
[5] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 131
[6] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 129&131   
[7] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 136-137
[8] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 129&117   
[9] Yusuf LN, Syamsu, "psikologi perkembangan anak dan remaja"hlm. 125-126