Syarat-syarat Pemilihan Penggalan-penggalan atau Bagian Imla yang Baik

♠ Posted by IMM Tarbiyah in at 10.16


Para pengajar sebaiknya memperhatikan beberapa hal di bawah ini ketika memilih penggalan-penggalan imla :
  1. Penggalan tersebut hendaknya yang baik dan jelas maknanya, kosa katanya juga mudah
  2. Mencakup hal-hal yang banyak berkaitan dengan lingkungan disekitar murid, sering didengar dan dilihat murid, berhubungan dengan hidupnya, sehingga pemahaman mereka dapat berjalan.
  3. Penggalan-penggalan tersebut hendaknya mencakup pengembangan pikiran murid dan menambah pengalaman mereka.
  4. Mencakup kalimat yang beracam-macam dan dala jumlah yang banyak, ini agar melatih murid dalam menulis.
  5. Mennjauhi penggalan-penggalan atau bagian yang telah dipelajari murid pada fase pertama atau permulaan.
  6. Tidak terlalu panjang, ini agar murid indah memahaminya, dan juga tidak terlalu pendek sehingga tujuan-tujuan pengajaran ditakutkan hilang atau tidak tercapai.
  7. Dibolehkan mengambil penggalan-penggalan imla dari tema bacaan atau buku dan dari teks selama itu sesuai dengan syarat-syarat yang dijelaskan.
Peran indera dalam pembelajaran imla
Cara mengingat kata ada 3 macam : mengingat dengan melihat, mengingat dengan mendengar, dan mengingat dengan tulisan. Tiap kalimat menimbulkan rasa yang berbeda-beda. Ketika kita melihat yang tertulis, kita dapat mengingatnya. Ketika kita mendengar, kita bisa mengingatnya, begitu juga ketika kita menulis, kita dapat mengingatnya pula.
Guru yang berhasil adalah guru yang bisa menyeimbangkan ketiga cara mengingat kata tersebut. Telinga terbiasa mendengarkan suara-suara dan memahami suara-suara itu. Dan mengemukakan perbedaan huruf diantara huruf-huruf yang dekat makhrojnya. Dan tulisan itu mempercepat pemahaman siswa.
Metode- metode pengajaran imla
  1. Imla Manqul ( yang disalin )
  1. Guru memulai dengan pendahuluan tentang tema, dengan jalan diskusi
  2. Memperlihatkan atau menciptakan penggalan imla. Di tulis di papan tulis dengan tarkib idofi dan dengan tukisan yang bagus, atau di atas lembaran kemudian kemudian dibagikan kepada murid atau di tulis di atas kartu yang besar.
  3. Perlu diperhatikan kalimat-kalimat yang diperhatikan guru harus lebih dimunculkan dengan menulis dengan kapur yang berbeda, atau diberi garis bawah.
  4. Guru mengucapkan dengan suara yang keras.
  5. Murid membaca dengan suara yang keras.
  6. Murid dan guru menduskusikan artinya.
  7. Mendiskusikan arti dan menyusun kata yang diinginkan dari penggalan-penggalan tersebut, kemudian meminta murid memilih kata dari kumpulan kata-kata dalam penggalan.
  8. Meminta murud membuka buku tulis imla mereka, kemudian disuruh menulis tanggal hijriyah dan miladiyah, nomor penggalan dan tema utama, kemudian mereka disuruh memindahkan apa yang ada di papan tulis. Murid diperbolekan melihat kalimat pertama kemudian guru menyembunyikan, kemudian juga di sisa penggalan berikutnya sampai habis.
  9. Setelah habis, murid-murid disuruh melihst sps ysng mereka tulis, dan mengulang bersama mereka, membacanya per kalimat.
  10. Guru meminta murid mengecek kalimat yang salah, dan menulis kalimat yang benar di atasnya.
  11. Murid mengumpulkan buku tulis.
  12. Sisa waktu digunakan untuk memperbaiki yang salah atau untuk di diskusikan.
  1. Imla Mandur
Metode ini sama seperti metode manqul. Perbedaan itu tampak setelah diskusi makna, menulis kembali kata yang susah di papan tulis. Kemudian kata itu dihapus lagi dan mwmulai imla dari potongan bacaan di papan tulis. Langkah-langkahnya seperti imla manqol.
  1. Imla masmu’
Murid harus bisa menyebutkan kata-kata yang telah didengar dari suara guru. Untuk itu siswa sangat perlu untuk mengetahui bentuk kata dan ungkapan yang ia pelajari atau ia dengar dan membandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang telah lalu, sehingga guru bisa mengetahui kemampuan mendengar siswa melalui perhatian yang lebih.
Langkah-langkah dalam metode imla :
  1. Pendahuluan ( Muqodimah ) dengan melakukan diskusi
mengenai suatu tema.
  1. Guru membacakan sebagian bacaan yang temanya masih umum.
  2. Mendiskusikan makna umum dari bacaan tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan dari guru.
  3. Menyebutkan kata-kata ( mufrodat ) sulit yang ia dengar dan menuliskannya di papan tulis serta memasukannya dalam kalimat sempurna.
  4. Siswa berdiru dan disuruh menceritakan sejarah kelahirannya dan alamat rumahnya, ditengah-tengah itu, guru memperhatikan kata-kata yang ada di papan tulis.
  5. Guru kembali membacakan bacaan yang kedua kalinya agar siswa bersiap-siap untuk menulis dan mengungkap persamaan diantara kata yang sulit dengan kata yang serupa.
  6. Guru mempertimbangkan tulisan-tulisan itu dengan penjelasan yang jelas dan bisa terdengar oleh seluruh siswa.
  7. Mengulangi bacaan yang ketiga kalinya kemudian menyempurnkan imlanya dengan gambar-gambar agar bisa lebih difahami siswa dan membenarkan kata-kata yang salah.
  8. Mengumpulkan tugas itu dengan tenang dan teratur.
  1. Imla Ikhtibari
Metode ini sama dengan metode masmu’ tetapi dengan meniadakan kata-kata sulit.
Perbaiakan kesalahan dalam imla
Untuk memperbaiki kesalahan dalam imla’ ada beberapa cara ( metode ) :
  1. Metode pertama
Guru membetulkan tulisan tiap siswa dihadapan siswa langsung. Guru menunjukan letak kesalahannya dan memberikan cara untuk membenarkannya.
Manfaat cara ini ( kelebihannya )
  • Siswa bisa mengetahui kesalahan-kesalahannya secara langsung
  • Siswa jadi merasa dekat dengan gurunya
  • Memungkinkan guru untuk bisa mengetahui perbedaan tingkat kemampuan siswa
  • Mengetahuai kelebihan ataupun kekurangan kemampuan siswa melalui tulisan
Akan tetapi siswa siswa terkadang berpaling dari tugas atau pekerjakan dan cenderung bermain dan senda gurau karena sibuk membetulkan hasil pekerjaan siswa.
  1. Metode kedua
Guru mengumpulkan hasil kerja dan membetulkannya diluar kelas dengan menulis hasil yang benar diatas kata yang salah. Siswa harus membetulkan kata-kata yang salah dengan tulisan yang benar sebagaimana yang dituliskan guru. Karena cara ini dikoreksi oleh guru, maka dibenarkan dengan sempurna dan dapat dipertanggungjawabkan.
Akan tetapi guru tidak bisa perhatian yang cukup terhadap siswa dan membutuhkan waktu lama dalam mengoreksi hasil pekerjaan siswa tersebut.
  1. Metode ketiga
Siswa melakukan perbaikan sendiri dengan membandingkan pekerjaannya dengan apa yang dicatat dalam papan tulis atau dalam buku bacaan atau dalam kertas. Apabila siswa menemukan kesalahan maka dia mencatat dibawah kata dan menulisnya yang benar dibawahnya.
Kelebihan cara ini :
  • Dapat memunculkan perhatian siswa
  • Guru mengawasi dengan dengan cara halus
  • Mengembalikan kepercayaan diri siswa
  • Melatih siswa untuk berkata benar dan dapat dipercaya
  • Memunculkan keberanian siswa dalam mengungkap kesakahn yang ia buat
  • Melatih keberanian siswadalam membetulkan kata-kata yang salah.
Kekurangannya :
  • Cara ini menunjukan kritikan yang tidak mengandung keberanian sepurna, karena bisa jadi ada kesalahan yang tidak ditemukan oleh siswa sehingga tidak ia batalkan.
  • Dari sisi keberanian, kebabnyakan siswa suka menutup-nutupi kecacatan diri sendiri. Olek karena itu, guru harus bisa menjadi perantara dalam mengungkap kebenarann. Walaupun siswa aktif mengoreksi, guru tidak begitu saja lepas dari tanggung jawabnya. Guru juga memiliki perantara penting. Guru akan tetap memgoreksi dalam hasil akhir beberapa pada keputusan guru.
  1. Metode keempat
Siswa bertukar pikiran dengan temanya dalam mengoreksi tulisan hasil kerjanya. Setelah dibetulkan, hasil tersebut dikembalikan ke teman agar mengetahui letak kesalahannya dan bisa dibetulkan.
Kelebihan metode ini :
  • Dapat memunculkan perhatian siswa
  • Dapat menimbulkan rasa kepercayaan diri pada siswa
  • Dapat meningkatkan rasa solidaritas siswa terhadap teman yang lain.
Kekurangannya :
  • Cara ini kurang efektif karena siswa bisa melakukan kesalahan dalam mengoreksi.
Penyontohan Sekolahan untuk Memperbaiki Kelemahan Murid dalam Imla’
Penyontihan sekolahan dilaksanakan dengan metode yang dapat mensukseskan murid-murid dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan mereka dalam pelajaran imla. Metode itu ialah metode pengumpulan dan metode kartu. Dua metode ini telah banyak digunakan di sekolah –sekolah Eropa dan hasilnya sukses.
  1. Metode pengumpulan
Metode ini pelaksanaannya adalah dengan mengedepankan insting yang dimiliki anak, menegaskan atau membebankan kepada mereka untuk mengumpulkan kata-kata sesuai susunan huruf hijaiyah dan susunan yang khusus dikartu-kartu yang khusus pula, seperti halnya mereka mengumpulkan yang berakhiran ta’ maftuhah ta marbutoh atau kata yang ditulis dengan dua lam atau menyusun hamzah di atas wa atau ya, atau kata- kata yang diucapkan temanya dengan alif tapi ditulis dengan ya dan seterusnya.
  1. Metode Kartu
Metode ini adalah untuk latihan personal atau individu bagi murid, maka disiapkanlah kartu-kartu yang tertulis di dalamnya. Kelompok-kelompok kata yang sesuai dan huruf-huruf hijaiyah dan tersusun sesuai dengan beberapa kaidah imla, contohnya : salah satu kartu mencakup kata-kata yang ditengah-tengahnya ada huruf hamzah berharokat kasroh dan yang lainnya kata-kata yang akhirnya hamzah dan sebelumnya huruf sukun. Selanjutnya kata –kata yang ditulis dengan dua lam dan seterusnya sampai mencakup dan memenuhi seluruh kaidah-kaidah dan imla dalam kartu.
Hubungan antara Imla dan Cabang Ilmu Bahasa Lainnya
Tidak seharusnya perhatian terhadap keahlian imla itu dibatasi hanya dengan kesungguhan dalam pembelajaran saja, tapi semua cabang ilmu yang lain bisa juga ikut andil dalam keahlian ini.
Dan membaca adalah cabang ilmu bahasa arab yang paling berperan penting dalam pembelajaran menyusun kata tyang benar. Ada hubungan kuat antara imla dan membaca, karena beberapa jenis imla menuntuk untuk dibaca terlebih dahulu sebelum ditulis. Contoh imla manqul dan imla mandur.
Dan naskah-naskah juga ada pengaruhnya dalam belajar menulis yang baik. Maka murid tidak hanya menghafal syair-syair naskah saja tapi menghafal susunan kata dan bentuk huruf.
Hubungan antara khot dan imla sangatlah erat. Dalam imla murid dilatih untuk memperbaiki tulisannya dan khot untuk memperindah.