Sabtu, 10 September 2011

PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL


Oleh: Dwi Setyowati

Beragam kekerasan massa muncul beruntun di negeri ini. Kekerasan yang terjadi disuatu daerah seolah tidak bisa dijadikan pelajaran oleh bangsa, sehingga kejadian yang sama selalu terulang. Padahal kita tahu, tidak sedikit korban maupun kerugian yang didapat dari pertarungan yang mengedepankan otot dan ego itu. Sebenarnya apa penyebab munculnya konflik horizontal semacam ini?
Indonesia adalah negara yang dihuni oleh berbagai suku, bangsa, etnis dan memiliki ragam budaya, pulau, agama, bahasa serta tradisi yang variatif. Kondisi sosio-kultural yang beragam seperti ini sebenarnya dapat menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa. Atau jika tidak pandai menjaganya, kekayaan budaya dan alam ini justru dapat menjadi konflik yang akan merongrong persatuan kita.
Hampir setiap hari kita disuguhi berita kekerasan antar kelompok oleh media. Ditahun 2010 ini kasus kekerasan terjadi beruntun. Mulai dari kasus Mbah Priok yang memakan korban 228 luka-luka dan 3 tewas, hingga insiden kelab malam Blowfish di PN Jakarta Selatan yang juga menyebabkan 3 warga tewas dan 9 terluka (Kompas, 1/10)
Ternyata keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia belum dipahami oleh masyarakatnya sebagai satu modal besar untuk membangun bangsa kita, yakni pengembangan manusia Indonesia menuju masa depan yang cerah dan lebih baik. Tapi keragaman masih dijadikan kendala bangsa dalam pembangunan dan persatuan. Dan hal ini akan menjadi problem serius jika kita tidak segera mencari solusi atau akar permasalahannya.
Selain kerena contoh yang buruk dari para elit politik, sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, penulis melihat bahwasanya penyebab munculnya gejolak di tengah masyarakat tersebut karena belum diterapkanya konsep pendidikan multikultural di Indonesia.
Padahal konsep pendidikan ini sangat cocok diterapkan pada bangsa Indonesia yang heterogen. Dengan adanya pendidikan multikultural, peserta didik akan diarahkan menjadi manusia yang berbudaya serta memiliki sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia.
Ainurofik Dawam menjelaskan, penerapan pendidikan multikultural secara inheren sudah ada sejak bangsa Indonesia ini ada. Falsafah Indonesia adalah suka gotong royong, membantu dan menghargai antara satu dengan lainya (Karlan, 2006:21).
Hal ini dapat dilihat dari potret sejarah bangsa ini yang terbuka dengan masuknya budaya dan suku bangsa asing ke Indonesia. Proses akulturasi dan adaptasi seperti ini pada dasarnya saling memahami, mempelajari, menerima dan sekaligus menghargai budaya, kepercayaan, agama dan tradisi masing-masing suku dan etnis. Proses inilah yang dikenal sebagai pendidikan multikultural.
Seharusnya balajar mengajar bukan ditujukan agar peserta didik menguasai materi dan mendapat nilai tinggi saja, tapi bagaimana peserta didik memahami dan mengalami proses berilmu di ruang kelas dan lingkungan sekolah diluar dirinya. Sehingga dia mampu menangkap realitas perbedaan yang ada.
Pendidikan multikultural mengharapkan agar semboyan Bhineka Tunggal Ika mampu terinternalisasi ke dalam relung-relung jiwa anak bangsa. Sehingga kita dapat bersikap bijak ketika berdampingan dengan masyarakat yang berbeda dan mengatasi masalah tanpa fanatisme golongan.