Tampilkan postingan dengan label Tafsir Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Quran. Tampilkan semua postingan

Tafsir Quran Ali Imran ayat 159

♠ Posted by IMM Tarbiyah in



Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Tafsir Hadits Tarbawi

♠ Posted by IMM Tarbiyah in
Q.S  AL-MA’UN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّين () فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ () وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِين () فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّين () الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ () الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ () وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ()
Artinya :
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya[1]. dan enggan (menolong dengan) barang berguna[2].”

A.     KOSAKATA[3]
1.      Yura’una يراءون (al-Ma’un/107: 6)
Yara’una merupakan kata kerja yang diambil dari ra’a-yara yang artinya melihat. Dari akar kata ini muncul pula term riya’, yang makna aslinya merupakan istilah untuk menyebut orang yang melakukan sesuaatu sambil melihat adakah manusia yang memperhatikannya, sehingga bila tidak ada yang melihatnya ia tidak melakukan. Ia bersikap demikian karena mengharap orang yang melihatnya akan memberikan pujian padanya. Dengan kata lain, orang yang bersikap riya’ adalah yang bila ia melakukan sesuatu selalu berusaha atau berkeinginan agar dilihat atau diperhatikan orang lain untuk mendapat pujian. Dari makna ini, kata riya’ atau yara’una diartikan sebagai melakukan suatu pekerjaan bukan karena Allah semata, tetapi juga mendapatkan pujian atau popularitas.

TERJEMAH SURAT AL AN’AM AYAT 75-79

♠ Posted by IMM Tarbiyah in
A.    SURAT AL AN’AM AYAT 75-79
1.      Ayat 75
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.”
2.      Ayat 76
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".

Tafsir Al Maragi... Q.S. Al An'am ayat 74-79

♠ Posted by IMM Tarbiyah in
A.    PENDAHULUAN
Ibrahim adalah nama kekasih Allah, bapak para Nabi terbesar sesudah Nuh. Dan kitab kejadian dikatakan bahwa, ia adalah anak kesepuluh dari Sam, dilahirkan di negeri Ur, yaitu Nur dari negeri Celedonia yang sekarang dikenal dengan nama Urfa di wilayah Aleppo. Hal ini dibenarkan oleh sebagian ahli sejarah.
Di dalam kitab kejadian dikatakan bahwa, Allah ta’ala menampakan diri Nya kepada Ibrahim ketika beliau berusia 99 tahun. Allah berbicara dengannya dan memperbaharui janji Nya dengannya, bahwa Dia akan memperbanyak keturunannya dan memberinya negeri Kan’an (Palestina) sebagai miliknya, dan menamakannya dengan nama keturunannya.
Ibrahim disebut Abul Jumhur Al’azim. Berarti dia bapak umat. Ini merupakan kabar gembira dari Allah baginya, bahwa dia akan mempunyai banyak keturunan dari kedua anaknya : Ismail as. dan Ishaq as.
Sebagian ahli sejarah menukilkan bahwa Raja Hamurabi yang hidup semasa dengan Ibrahim as. Adalah seorang berkebangsaan Arab.
Ibrahim telah menempatakan putranya, Ismail bersama ibunya, Hajar yang berkebangsaan Mesir di sebuah lembah yang disitulah kemudian berdiri kota Makkah. Allah telah mendudukan bagi mereka berdua sekelompok orang Jurhum yang kemudian tinggal bersama mereka di sana.
Allah menamakan bapak Ibrahim dengan Azar. Di dalam kitab kejdian namanya adalah Terah yang berarti orang yang bermalas-malas. Di dalam kitab Tarikh, Bukhari mengatakan, Ibrahim adalah putra Azar. Di dalam Taurat ia dinamakan Terah, tetapi Allah menamakan Azar. Ad Dahhak dan Ibnu Jarir menetapkan bahwa namanya Azar.